Konseling Realita Dalam Pelayanan Konseling Kelompok Materi 1
"KONSELING REALITA DALAM PELAYANAN KONSELING KELOMPOK"
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbagai masalah yang dimiliki manusia, khusunya secara psikis tentusaja memiliki penyelesaian yang berbeda-beda. Untuk menyelesaikannya membutuhkan ketepatan dalam pemberian layanan dan pendekatan yang digunakan oleh seorang konselor. Salah satu layanan yang dapat diberikan yaitu konseling kelompok.
Konseling kelompok merupakan layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (konseli) memperoleh kesempatan untuk pemecahan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok. Dalam pemacahan masalah yang berhubungan dengan psikologis, ada banyak pendekatan-pendekatan yang digunakan konselor dalam membantu konselinya, salah satunya yaitu menggunakan pendekatan Realita.
Menurut Glasser (dalam Mappiare, 2006) bahwa konseling kelompok realita berdasarkan 3R yaitu perencanaan perilaku yang bertanggung jawab (Responsibility), realitas atau pemusatan pada perilaku (Reality), mempertimbangkan nilai-nilai perilaku klien keputusan baik kurang baik (Right and Wrong).
Tujuan umum konseling realita dan sudut pandang konselor menurut Burks (1979) menekankan bahwa konseling realita merupakan bentuk mengajar dan latihan individual secara khusus.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang diajukan, rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian teknik Realita ?
2. Apa tujuan dari teknik Realita ?
3. Apa saja tahap Konseling Kelompok ?
4. Apa saja tahap Konseling Realita ?
5. Bagaimana teknik dalam Konseling Realita ?
6. Bagaimana konseling Realita dalam Konseling Kelompok ?
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah, maka tujuan masalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian teknik Realita.
2. Untuk mengetahui tujuan dari teknik Realita.
3. Untuk mengetahui tahap Konseling Kelompok.
4. Untuk mengetahui tahap Konseling Realita.
5. Untuk mengetahui teknik dalam Konseling Realita.
6. Untuk mengetahui konseling Realita dalam Konseling Kelompok.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Teknik Realita
Konseling Realita Merupakan teknik
konseling kelompok yang di perkenalkan oleh William Glasser. Menurutnya, teori
realita ini menekankan bahwa semua prilaku muncul dalam diri seseorang
dengan bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan dasar dirinya (Glasser, dalam Gladding, 1955).
Menurut Glasser (dalam Mappiare, 2006)
bahwa konseling kelompok realita berdasarkan 3R yaitu perencanaan perilaku yang
bertanggung jawab (Responsibility), realitas atau pemusatan pada perilaku
(Reality), mempertimbangkan nilai-nilai perilaku klien keputusan baik kurang
baik (Right and Wrong). Glasser juga menambahkan bahwa tanggung jawab adalah
inti dari teori realitas.
Selain itu, McArthur menjelaskan (dalam
Parrot, 2003) bahwa konseling kelompok realita memberikan kesempatan yang lebih
besar bagi individu untuk terlibat, baik dalam memiliki perhatian lain bagi
mereka maupun dalam menyediakan kesempatan bagi individu itu untuk merawat
orang lain.
Menutut pandangan optimistik Glasser yang menegaskan bahwa manusia dapat
mengubah perasaan, tindakan dan nasib (kehidupannya) sendiri. Namun, itu dapat
dilakukan jika hanya manusia telah menerima tanggung jawab dan bersedia
mengubah identitasnya (dalam Darminto, 2007: 152).
B.
Tujuan Konseling Teknik Realita
Konseling
Realita memiliki tujuan untuk membantu individu mencapai tujuan khususnya.
Untuk mencapainya diperlukan suatu rasa tanggung jawab dari individu, untuk
mencapinya individu harus mencapai kepuasan terhadap kebutuhan personal. Untuk
memenuhi kepuasan terhadap kebutuhan tersebut perlu diperhatikan 3R yaitu
reality (kenyataan), right (hal yang baik), responsible (tangung jawab).
Tujuan
umum konseling realita dan sudut pandang konselor menurut Burks (1979)
menekankan bahwa konseling realita merupakan bentuk mengajar dan latihan
individual secara khusus. Secara luas, konseling ini membantu konseli dalam
mengembangkan sistem atau cara hidup yang kaya akan keberhasilan.
Secara
garis besar, tujuan Konseling Realita adalah :
1.
Menolong
individu agar mampu mengurus dirinya sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk
nyata.
2.
Mendorong
konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang
ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan
pertumbuhannya.
3.
Mengembangkan
rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
4.
Periaku
yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses,
yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk
mengubahnya sendiri.
5.
Terapi ditekankan
pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri.
C.
Tahap Konseling Kelompok
Pelaksanaan bimbingan dan konseling kelompok tentunya
memiliki berbagai tahapan yang sistematis. Di dalam literatur professional
terdapat berbagai perdebatan mengenai apa dan kapan kelompok melewati tahapan.
Tahap konseling kelompok
dikenali dalam berbagai jenis kelompok, yaitu kelompok belajar dan kelompok
latihan, bagaimanapun juga banyak terdapat perdebatan tentang tahapan yang
berpusat pada bimbingan dan konseling kelompok (Gladding, 2012:308). Bimbingan
dan konseling kelompok dipecah menjadi lima tahap yaitu:
1.
Forming a group
Mungin Eddy Wibowo (2005:86) menjelaskan
bahwa pada tahap permulaan konselor perlu mempersiapkan terbentuknya kelompok.
Pada tahap ini terutama pada pembentukan kelompok, yang dilakukan dengan
seleksi anggota dan menawarkan program kepada calon peserta konseling sekaligus membangun harapan kepada calon peserta.
Pada tahap ini dilakukan upaya untuk
menumbuhkan minat bagi terbentuknya kelompok yang meliputi pemberian penjelasan
tentang adanya layanan konseling kelompok bagi para siswa, penjelasan
pengertian, tujuan dan kegunaan konseling kelompok, ajakan untuk memasuki dan
mengikuti kegiatan, serta kemungkinan adanya kesempatan dan kemudahan bagi
penyelenggaraan konseling kelompok.
Pembentukan kelompok secara konseptual
dimulai dari ide konselor dan berakhir setelah ide-ide baru yang lain
diungkapkan, dan selanjutnya para anggota mulai bekerja. Setelah pembentukan
kelompok dilakukan, isu-isu yang lebih produktif dapat dihadapkan secara
individual maupun secara kolektif.
Gladding dalam Mungin Eddy Wibowo
(2005:86) mengemukakan lima langkah dalam pembentukan kelompok, yaitu:
a)
Rasional pengembangan kelompok
b)
Menetapkan teori yang sesuai untuk
pengembangan kelompok
c)
Pertimbangan-pertimbangan praktis dalam
kelompok.
d)
Mengumumkan kelompok
e)
Pelatihan awal dan seleksi anggota dan
konselor.
Dalam rangka mempersiapkan anggota untuk
memasuki kelompok, Corey dalam Mungin Eddy Wibowo (2005:86-87) mengemukakan
hal-hal yang penting dibahas konselor bersama calon anggota kelompok, yaitu:
- Pernyataan yang
jelas tentang tujuan kelompok
- Deskripsi tentang bentuk kelompok,
prosedur dan peraturan-peraturan mainnya.
- Kecocokan proses
kelompok dengan kebutuhan peserta
- Kesempatan mencari informasi tentang
kelompok yang akan dimasukinya, mengajukan pertanyaan dan menjajagi hal-hal
yang menarik dalam kegiatan kelompok itu
- Pernyataan yang
menjelaskan pendidikan, latihan dan kualifikasi pemimpin kelompok
- Informasi biaya yang harus ditanggung
peserta dan apakah biaya itu mencakup kegiatan lanjut, di samping juga
informasi tentang besarnya kelompok, banyaknya pertemuan, lama pertemuan, arah
pertemuan, serta teknik-teknik yang digunakan
- Informasi tentang resiko psikologis
dalam kegiatan kelompok itu
- Pengetahuan tentang keterbatasan
kerahasiaan dalam kelompok, yaitu pengetahuan tentang keadaan di mana
kerahasiaan itu harus dilanggar karena kepentingan bersama dan karena alasan
hukum, etis, dan profesional
- Penjelasan tentang layanan yang dapat
diberikan dalam kegiatan kelompok itu
- Bantuan dari pimpinan kelompok dalam
mengembangkan tujuan-tujuan pribadi peserta
- Pemahaman yang jelas mengenai pembagian
tanggung jawab antara pimpinan kelompok dan peserta
- Diskusi mengenai hak dan kewajiban anggota kelompok.
2.
Initial Stage
Mungin Eddy Wibowo (2005:87) menjelaskan bahwa tahap permulaan ini juga
merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri ke
dalam kehidupan suatu kelompok, tahap menentukan agenda, tahap menentukan norma
kelompok dan tahap penggalian ide dan perasaan.
Pada tahap ini para anggota saling
memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan atau harapan-harapan yang
ingin dicapai baik oleh masing-masing, sebagian, maupun seluruh anggota. Konselor menjelaskan
tanggung jawab pemimpin dan anggota di dalam
kelompok, proses kelompok, keuntungan yang akan diperoleh anggota bila berada
dalam kelompok, mendorong calon anggota untuk menerima tanggung jawab bagi
partisipasi dan keterlibatan di dalam kelompok serta meningkatkan harapan bahwa
kelompok dapat membantu anggota kelompok.
Konselor juga mengemukakan jumlah anggota yang
tergabung dalam kelompok, waktu pertemuan, lama pertemuan, bentuk kelompok
tertutup dan bentuk kelompok terbuka. Apabila masing-masing anggota kelompok
telah mempunyai agenda, pemimpin kelompok perlu menjelaskan norma kelompok,
yaitu asas kerahasiaan, kesukarelaan, kegiatan, keterbukaan, dan kenormatifan
dalam konseling kelompok yang akan membantu masing-masing anggota untuk
mengarahkan peranan diri sendiri terhadap anggota lainnya
dan pencapaian tujuan bersama.
Setelah pembentukan kelompok kemudian dimulai
dengan pertemuan pertama yang disebut peran serta. Di sini konselor kelompok
perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut (Mungin Eddy Wibowo,
2005:88-90).
a) Perkenalan
Pertama kali
yang dilakukan konselor kelompok adalah memperkenalkan dirinya dan memperkenalkan
tiap anggota kelompok (ini dilakukan jika anggota kelompok belum saling
mengenal). Jika masing-masing anggota sudah saling mengenal, maka yang dilakukan
oleh konselor adalah meningkatkan kualitas hubungan antar anggota kelompok,
sehingga akan terjadi adanya sikap saling percaya, saling menghargai, saling
menghormati, saling mengerti, dan adanya kebersamaan di dalam kelompok.
b)
Pelibatan Diri
Konselor menjelaskan pengertian dan tujuan yang ingin dicapai melalui
kegiatan kelompok dan menjelaskan cara-cara yang akan dilalui dalam mencapai
tujuan itu. Konselor merangsang dan memantapkan keterlibatan anggota kelompok
dalam suasana kelompok yang diinginkan, dan juga membangkitkan minat-minat dan
kebutuhan serta rasa berkepentingan para anggota mengikuti kegiatan kelompok
yang sedang mulai digerakkan. Konselor harus mampu menumbuhkan sikap
kebersamaan, perasaan sekelompok, suasana bebas, terbuka, saling percaya,
saling menerima, saling membantu di antara para anggota.
c) Agenda
Setelah anggota saling mengenal dan telah melibatkan diri atau memasukan
diri ke dalam kehidupan kelompok. Agenda adalah tujuan yang akan dicapai di
dalam kelompok. Tentu saja agenda ini sesuai dengan ketidakpuasan atau masalah
yang selama ini dialami oleh masing-masing anggota kelompok. Yang paling
efektif adalah mengemukakan ketidak puasan atau masalah dalam perilaku nyata
dan perubahan nyata yang ingin dicapai setelah kelompok berakhir.
Agenda dapat dibagi menjadi agenda jangka panjang dan jangka pendek.
Agenda jangka panjang yaitu tujuan yang ingin dicapai oleh anggota kelompok
setelah kelompok selesai. Agenda jangka pendek yaitu agenda untuk hari itu atau
pertemuan itu.
d)
Norma Kelompok
Pertama kali yang sangat penting untuk dikemukakan adalah kerahasiaan.
Rochman Natawidjaya dalam Mungin
Eddy (2005:89) menyatakan bahwa kerahasiaan merupakan persoalan pokok yang paling
penting dalam konseling kelompok. Ini bukan hanya berarti bahwa konselor harus
memelihara kerahasiaan tentang apa yang terjadi dalam konseling kelompok itu,
melainkan juga konselor, sebagai pemimpin harus menekankan kepada semua peserta
pentingnya pemeliharaan kerahasiaan itu. Apa yang terjadi di dalam kelompok
dilarang dibicarakan di luar kelompok dengan orang lain.
Umpan balik dalam bentuk kritik yang diberikan kepada anggota lain bukan
untuk memenuhi dorongan agresivitas, tapi yang lebih penting adalah pemberian
penghargaan pada apa yang telah dilakukan anggota lain.
e)
Penggalian Ide dan Perasaan
Sebelum pertemuan pertama berakhir perlu digali ide-ide maupun
perasaan-perasaan yang muncul. Usul-usul perlu ditampung, demikian pula
perasaan yang masih mengganjal perlu diungkapkan sebelum dilanjutkan pada
langkah berikutnya. Hal ini penting untuk menjaga rasa positif anggota terhadap
kelompok. Pertemuan awal ini dapat dipakai sebagai prediksi tentang komitmen
anggota terhadap kelompok.
3.
Transition Stage
Tahap transisi merupakan masa setelah
proses pembentukan dan sebelum masa bekerja (kegiatan). Tahap ini yang
merupakan proses dua bagian, yang ditandai dengan ekspresi sejumlah emosi dan interaksi
anggota.
Transisi mulai dengan masa badai, yang mana
anggota mulai bersaing dengan yang lain dalam kelompok untuk mendapatkan
tempat, kekuasaan dalam kelompok. Masa badai adalah masa munculnya
perasaan-perasaan kecemasan, pertentangan, pertahanan, ketegangan, konflik,
konfrontasi, transferensi. Selama masa ini, kelompok berada diambang ketegangan
dan mencapai keseimbangan antara terlalu banyak dan terlalu sedikitnya
ketegangan.
Masa badai adalah masa munculnya konflik
atau kegelisahan saat kelompok beralih dari ketegangan primer (kejanggalan
dalam situasi yang aneh) ke ketegangan sekunder (konflik antar kelompok).
Selama masa ini, kelompok berada diambang ketegangan dan mencapai keseimbangan
antara terlalu banyak dan terlalu sedikitnya ketegangan. Selama masa badai,
anggota kelompok lebih terlihat gelisah dalam interaksinya dengan sesama
anggota. Kegelisahannya berkaitan dengan ketakutan untuk lepas kontrol, salah
persepsi, terlihat bodoh atau ditolak (Corey & Corey, dalam Mungin
Eddy Wibowo, 2005:91). Beberapa anggota menghindari mengambil resiko dengan
tetap diam.
Tugas konselor adalah membantu para anggota
untuk mengenali dan mengatasi halangan, kegelisahan, keengganan, sikap
mempertahankan diri, dan ketidaksabaran yang timbul pada saat ini (Gladding
dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005:94).
Berikut adalah beberapa tugas
utama pemimpin kelompok (konselor) yang perlu dilakukan selama periode transisi
yang penting dalam pengembangan sebuah kelompok (Corey, 2012:118):
a) Mengajarkan anggota kelompok
pentingnya mengenali dan mengekspresikan kekhawatiran mereka, penolakan/
keengganan, dan reaksi terhadap apa yang terjadi dalam sesi tersebut.
b) Membantu peserta mengenali
cara di mana mereka bereaksi membela diri dan menciptakan iklim di mana mereka
dapat menangani dengan resistansi mereka secara terbuka.
c) Mengajar para anggota nilai
mengenali dan menangani konflik yang terjadi dalam kelompok secara terbuka.
d) Menunjukkan perilaku yang
merupakan manifestasi dari perjuangan untuk kontrol, dan mengajar anggota
bagaimana mereka menerima berbagi tanggung jawab untuk arah kelompok.
e) Membantu anggota kelompok
dalam berurusan dengan hal-hal yang akan mempengaruhi kemampuan mereka untuk
menjadi mandiri dan saling bergantung.
f) Mendorong anggota untuk
menjaga dalam pikiran apa yang mereka inginkan dari kelompok dan meminta untuk
itu.
g) Menyediakan model untuk para
anggota dengan berurusan langsung dan jujur dengan tantangan apapun kepada
pemimpin kelompok (konselor) sebagai orang atau sebagai seorang profesional.
h) Terus memantau reaksi-reaksi
pemimpin kelompok (konselor) sendiri untuk anggota yang menampilkan perilaku
bermasalah. Eksplorasi potensi pemimpin kelompok (konselor) melalui pengawasan
atau terapi pribadi.
4.
Working Stage
Tahap kegiatan sering disebut
juga sebagai tahap bekerja (Gladding,1995), dan tahap pertengahan yang
merupakan inti kegiatan konseling kelompok, sehingga memerlukan alokasi waktu
yang terbesar dalam keseluruhan kegiatan konseling kelompok. (Mungin Eddy
Wibowo, 2005:94). Tahap ini merupakan tahap kehidupan yang sebenarnya dari
konseling kelompok, yaitu para anggota memusatkan perhatian terhadap tujuan
yang akan dicapai, mempelajari materi-materi baru, mendiskusikan berbagai
topik, menyelesaikan tugas, dan mempraktekkan perilaku-perilaku baru.
Kelompok menunjukkan
keintiman, keterbukaan, umpan balik, kerjasama, konfrontasi, dan humor secara
sehat. Tingkah laku positif ini diperlihatkan dalam hubungan interpersonal
antar anggota, yaitu dalam hubungan teman. Penekanan utama pada tahap ini
adalah produktivitas, baik hasilnya dapat dilihat langsung atau tidak.
Pada tahap kegiatan ini,
kelompok benar-benar sedang mengarahkan kepada pencapaian tujuan. Disini
prinsip tut wuri handayani dapat diterapkan, dengan terus menerus
memperhatikan dan mendengarkan secara aktif, khususnya memperhatikan hal-hal
atau masalah khusus yang mungkin timbul dan kalau dibiarkan akan merusak
suasana kelompok yang baik. Konselor harus dapat melihat dengan baik dan dapat
menentukan dengan tepat arah yang dituju dari setiap pembicaraan sehingga akan
dapat menumbuhkan saling hubungan antar anggota kelompok dengan baik, saling
tanggap dan tukar pendapat berjalan lancar, saling tukar pengalaman yang
berkaitan dengan perasaan berlangsung dengan bebas, bersikap saling membantu,
saling menerima, saling kuat-mengkuatkan, dan saling berusaha untuk memperkuat
rasa kebersamaan
Pada tahap ini, hubungan
antar anggota sudah mulai ada kemajuan. Sudah terjalin rasa saling percaya
antara sesama anggota kelompok, rasa empati, saling mengikat dan berkembang
lebih dekat secara emosional, dan kelompok tersebut akan menjadi kompak
(kohesif). Kelompok yang kohesif menunjukkan adanya penerimaan yang mendalam,
keakraban, pengertian, disamping itu juga mungkin berkembang eksperesi
bermusuhan dan konflik.
Interaksi antara
anggota-konselor mulai menurun dan interaksi antara anggota-anggota menaik.
Pada saat ini konselor lebih berperan sebagai pengamat dan fasilitator.
Dibutuhkan kesabaran yang tinggi dari konselor bila akan memimpin kelompok yang
bermasalah emosi berat. Konselor bisa menguatkan dengan berbagi pengalaman
pribadi dan pencapaian tujuan ini entah di dalam atau di luar kelompok.
Menurut Gibson & Mitchell
dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005:97), bahwa kemajuan selama tahap ini tidak
selalu konstan, kadang-kadang terjadi kemunduran, stagnasi, atau bahkan
kebingungan. Oleh karena itu, konselor hendaknya sadar dan bersiap diri dengan
kemungkinan negatif.
Corey
(2012:133) memaparkan secara rinci fungsi pemimpin kelompok (konselor) sebagai
fungsi sentral kepemimpinan pada tahap ini yaitu:
b) Menyediakan secara sistematis
penguatan perilaku kelompok yang diinginkan yang mendorong kohesi dan kerja
produktif.
c) Mencari tema-tema umum di
antara kerja anggota yang menyediakan beberapa universalitas.
d) meneruskan model penyesuaian
perilaku, terutama peduli konfrontasi, dan mengungkapkan reaksi yang
berkelanjutan dan persepsi.
e) Menafsirkan makna dari
pola-pola perilaku pada waktu yang tepat sehingga anggota akan dapat mencapai
tingkat eksplorasi diri yang lebih dalam dan mempertimbangkan perilaku
alternatif.
f) Menyadari faktor terapeutik
yang beroperasi untuk menghasilkan perubahan dan campur tangan dalam cara
tertentu untuk membantu anggota membuat perubahan yang diinginkan dalam
pikiran, perasaan, dan tindakan.
5.
Final Stage
Menurut Corey dalam Mungin Eddy Wibowo
(2005:97). Penghentian memberi kesempatan pada anggota kelompok untuk
memperjelas arti dari pengalaman mereka, untuk mengkonsolidasi hasil yang
mereka buat, dan untuk membuat keputusan mengenai tingkah laku mereka yang
ingin dilakukan di luar kelompok dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahap akhir atau penghentian pertemuan
kelompok yang penting adalah bagaimana keterampilan anggota, termasuk konselor,
dalam mentransfer apa yang telah mereka pelajari dalam kelompok ke dalam
kehidupannya di luar lingkungan kelompok.
Kegiatan anggota kelompok yang paling
penting dalam tahap penghentian adalah untuk kognitif (Wagenheim & Gemmill
dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005:98). Penghentian memberi kesempatan
pada anggota kelompok untuk memperjelas arti dari pengalaman mereka, untuk
mengkonsolidasi hasil yang mereka buat, dan untuk membuat keputusan mengenai
tingkah tingkah laku mereka yang mereka inginkan untuk dilakukan di luar
kelompok dan dilakukan di kehidupan sehari-hari.
Pada tahap ini, Corey dalam Mungin Eddy
Wibowo (2005:99) mengemukakan bahwa sesudah berakhirnya pertemuan kelompok,
fungsi utama dari anggota kelompok adalah merencanakan program dari apa yang
pernah dia pelajari yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,
melakukan melalui pertemuan yang telah ditetapkan jika diperlukan. Secara
umum dapat dikatakan bahwa pengakhiran kegiatan konseling kelompok tepat
dilakukan pada saat-saat tujuan-tujuan individual anggota kelompok dan tujuan
kelompok telah dicapai dan perilaku baru telah dipraktekkan dalam kehidupan
sehari-hari di luar kelompok. Namun bisa juga konseling kelompok itu diakhiri
dalam kondisi yang lain.
Ketika kelompok memasuki tahap pengakhiran,
kegiatan kelompok hendaknya dipusatkan pada pembahasan dan penjelajahan tentang
apakah para anggota kelompok akan mampu menerapkan hal-hal yang telah mereka
pelajari dalam suasana kelompok, pada kehidupan nyata mereka sehari-hari.
Peranan konselor di sini ialah memberikan penguatan (reinforcement) terhadap
hasil-hasil yang telah dicapai oleh anggota kelompok dan oleh kelompok,
khususnya terhadap keikutsertaan secara aktif para anggota kelompok dan
hasil-hasil yang telah dicapai oleh masing-masing anggota kelompok.
Pengakhiran konseling kelompok hendaknya
membuat kesan yang positif bagi anggota kelompok, jadi jangan sampai anggota
kelompok mempunyai ganjalan-ganjalan. Untuk itu perlu diberikan kesempatan bagi
masing-masing anggota untuk mengemukakan ganjalan-ganjalan yang sesungguhnya
mereka rasakan selama kelompok berlangsung. Dengan demikian para anggota
kelompok akan meninggalkan kelompok dengan perasaan lega dan puas. Dengan kata
lain, bahwa pada akhir kegiatan kelompok hendaknya para anggota merasa telah
memetik suatu hasil yang cukup berharga dari kegiatan kelompok yang diikutinya
itu.
Penghentian terjadi pada dua tingkatan
dalam kelompok, yaitu pada akhir masing-masing sesi, dan pada akhir dari
keseluruhan sesi kelompok. Dalam mempertimbangkan penghentian, konselor harus
membuat rencana terlebih dahulu. Proses penghentian meliputi langkah-langkah :
(1) orientasi, ( 2) ringkasan, (3) pembahasan tujuan, dan tindak lanjut
(Epstein & Bishop, dalam Mungin Eddy Wibowo, 2005:100).
Dalam semua kasus ini, fokusnya adalah
dalam membantu anggota kelompok untuk memaksimalkan kemampuan mereka, dan
mencapai tujuan mereka. Melalui prosedur ini, anggota kelompok lebih banyak
menemukan mengenai diri mereka sendiri, mencoba untuk lebih memahami orang
lain, dan mengambil langkah-langkah untuk menciptakan tipe-tipe masyarakat atau
organisasi yang mereka butuhkan.
Penghentian prematur dari
kelompok keseluruhan mungkin terjadi karena tindakan pemimpin kelompok atau
anggota. Pemimpin kelompok mungkin menghentikan kelompok secara prematur dengan
tepat jika mereka sakit, pergi/pindah, atau ditugaskan pada jabatan lain.
Pemimpin kelompok yang menghentikan kelompok secara prematur karena mereka
merasakan ketidak nyamanan pribadi, gagal untuk mengenali dan mengkonsepkan
masalah, atau merasa terbebani dengan masalah-masalah anggota yang mereka
lakukan sendiri dan meninggalkan kelompok dan anggotanya dengan masalah yang
tidak terselesaikan.
Corey (2012:138) merincikan tugas pemimpin kelompok
(konselor) dalam tahap penutupan/ akhir ini, yaitu:
a) Memperkuat perubahan anggota
yang telah dibuat dan memastikan bahwa anggota memiliki informasi tentang
sumber daya untuk memungkinkan mereka untuk membuat perubahan selanjutnya.
b) Membantu anggota dalam
menentukan bagaimana mereka akan menerapkan keahlian tertentu dalam berbagai
situasi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membantu mereka untuk
mengembangkan kontrak tertentu dan rencana aksi yang ditujukan pada perubahan.
c) Membantu anggota konsep apa
yang sedang terjadi dalam kelompok dan mengidentifikasi kunci titik balik.
d) Membantu anggota untuk
meringkas perubahan mereka dan melihat kesamaan dengan anggota lain.
e) Membantu peserta
mengembangkan kerangka kerja konseptual yang akan membantu mereka memahami,
mengintegrasikan, menggabungkan, dan mengingat apa yang telah mereka pelajari
dalam kelompok.
D.
Tahap Konseling Realita
Praktik atau metode terapi realitas dilihat
sebagai dua strategi utama tetapi saling berhubungan. Pertama, membangun adanya
hubungan antara konselor dan konseli yang saling percaya, dan yang kedua,
prosedur-prosedur yang menuntun menuju perubahan yang dirangkum oleh Robert
Wubbolding sebagai sistem WDEP.
Sistem WDEP memberikan kerangka pertanyaan
yang diajukan secara luwes dan tidak dimaksudkan hanya sebagai rangkaian
langkah sederhana. Tapi huruf WDEP melambangkan sekelompok gagasan.
Wubbolding menyatakan bahwa konseling
realita ada 4 proses yang dilakukan yaitu :
·
W =wants or
needs
·
D = doing and
direction
·
E = evaluation or
self-evaluation
·
P = planning
1. Wants/ keinginan
Kegiatan untuk menjelajahi keinginan dan persepsi konseli. Menolong
konseli untuk merumuskan dan menemukan apa yang diinginkan dan diharapkan
konseli, termasuk yang diinginkannya dari bidang khusus yang relevan seperti
teman, pasangan, anak, pekerjaan, karir, kehidupan spiritual dan lain-lain.
2. Direction/ doing/
arahan
“Apa yang anda lakukan?” dan “Kearah mana perilaku anda membawa anda?”.
Di awal konseling pentinguntuk mendiskusikan dengan konseli secara keseluruhan
arah dari kehidupan mereka. Eksplorasi ini adalah awal untuk evaluasi
berikutnya apakah itu adalah arah yang diinginkan yaitu :
q Eksplorasi arah dan tindakan dilakukan untuk mengetahui apa saja yang
dilakukan untuk mengetahui apa saja yang telah dilakukan klien guna mencapai
kebutuhannya
q Hal yang dilakukan dikaitkan dengan perilaku menyeluruh (total behavior)
q Penekanan eksplorasi ini adalah masa kini atau masa lalu yang berkaitan
dengan masalah kini.
Konselor menanyakan secara spesifik apa saja yang dilakukan konseli.
Cara pandang dalam konseling realita, akar permasalahan konseli bersumber pada
perilakunya (doing),bukan pada perasaannya.
3. Evaluation/ penilaian
Tahap ini merupakan proses inti dalam konseling realita untuk pembentukan perubahan
perilaku. Kegiatan membantu konseli untuk
mengevaluasi diri. Konselor menanyakan kepada konseli apakah pilihan
perilakunya itu didasari oleh keyakinan bahwa hal tersebut baik baginya. Fungsi
konselor tidak untuk menilai benar atau salah perilaku konseli, tetapi
membimbing konseli untuk menilai perilakunya saat ini.
Terapis realitas kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti
contohnya Apakah yang anda lakukan agar dapat membuat anda semakin dekat dengan
orang-orang yang anda butuhkan?, Apakah yang anda inginkan realistis atau dapat
dicapai?, Apa lagi yang dapat anda lakukan?
Pertanyaan diatas dan masih banyak pertanyaan evaluasi diri lainnya
merupakan batu pertama sistem WDEP. Semua itu perlu ditanyakan dengan empati,
kepedulian, dan perhatian positif pada klien.
4.
Planning/ perencanaan
Kegiatan menolong konseli untuk membuat rencana tindakan. Rencana menekankan tindakan yang akan diambil, bukan tingkah laku yang akan dihapuskan. Rencana juga dikendalikan oleh konseli dan terkadang dituangkan dalam bentuk kontrak tertulis yang menyebutkan alternatif-alternatif yang dapat dipertanggung jawabkan. Konseli kemudian diminta untuk berkomitmen terhadap rencana tindakan tersebut.
Penggunaan teknik WDEP ini bertujuan untuk membantu konseli agar memiliki kontrol yang lebih besar terhadap kehidupannya sendiri dan mampu membuat pilihan yang lebih baik nantinya. Melalui penggunaan teknik WDEP ini, konselor mengajak konseli untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kontrol diri dengan melakukan evaluasi terhadap diri sendiri dengan mengeksplorasi dan menilai perilaku-perilaku konseli khususnya perilaku yang kurang bertanggung jawab yang mengakibatkan kontrol dirinya rendah terhadap perilaku menyimpang. Setelah mengetahui dan menilai perilakunya, konseli bersama dengan konselor membuat perencanaan untuk perilaku kedepannya yang lebih bertanggung jawab, dimana didalamnya terdapat komitmen antara konselor dengan konseli. Dengan adanya komitmen tersebut konseli dituntut untuk bertanggung jawab terhadap rencana yang telah dibuatnya.
E. Teknik Koseling Realita
Prosedur-prosedurnya
difokuskan pada kekuatan dan potensi klien yang berhubungan dengan tingkah
lakunya sekarang dan usahanya untuk mencapai keberhasilan dalam hidup. Dalam
membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, terapi dapat
menggunakan beberapa teknik:
2. Melibatkan diri
3. Menggunakan humor
4. Mengonfrontasikan klien dan menolak dalil apapun
5. Membantu klien dalam merumuskan rencana yang spesifik
bagi tindakan
6. Bertindak sebagai model dan guru
7. Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi
8. Menggunakan “terapi kejutan verbal” atau sarkasme yang
layak untuk mengonfrontasikan klien dengan tingkah laku yang tidak realistis.
Pelaksanaan Konseling realita, menurut Corey (1982) ada
beberapa teknik yang dapat dilaksanakan yaitu :
1.
Melakukan main
peran dengan klien.
2.
Menggunakan humor
3.
Mengkonfrontasi
klien dengan tidak memberikan ampunan / tidak menerima dalih.
4.
Membantu klien
merumuskan rencana perubahan.
5.
Melayani klien
sebagai model peranan dan guru.
6.
Menentukan
batas-batas dan struktur konseling yang tepat dan jelas.
7.
Menggunakan
verbal shock atau sarkasme yang tepat untuk menentang klien dengan tingkah
lakunya yang tidak realistis.
8.
Terlibat dengan
klien dalam mencari hidup yang lebih efektif.
F.
Koseling Realita dalam Konseling Kelompok
Tahapan kegiatan konseling kelompok realitas
(Wubbolding, 2011) menggunakan akronim WDEP (Want, Doing, Evaluation dan
Planning) untuk menggambarkan prosedur yang akan diterapkan dalam praktek
konseling kelompok realita. Thompson, et. Al. (2004:115-120) mengemukakan
delapan tahap dalam Konseling Realita :
1.
Tahap pertama : Konselor Menunjukkan Keterlibatan dengan Konseli (Be
Friend)
Pada tahap ini, konselor mengawali pertemuan
dengan sikap hangat, dan menaruh perhatian pada hubungan yang sedang di bangun.
Konselor melibatkan diri pada konseli dengan memperlibatkan sikap hangat dan
ramah, menunjukkan keterlibatan dengan konseli dapat ditunjukkan dengan
perilaku attending serta menunjukkan sikap bersahabat.
2. Tahap kedua : Fokus
pada Perilaku Sekarang
Tahap kedua ini merupakan eksplorasi diri bagi
konseli. Konseli mengungkapkan ketidaknyamanan yang ia rasakan dalam menghadapi
permasalahannya. Lalu konselor meminta konseli mendeskripsikan hal-hal apa saja
yang telah dilakukan dalam menghadapi kondisi tersebut, dalam tahap ini adanya
keinginan (Want) yang disampaikan konseli.
3.
Tahap ketiga : Mengeksplorasi Total Behavior Konseli
Tahap ini menanyakan apa yang dilakukan
konseli (doing), yaitu konselor menanyakan secara spesifik apa saja yang dilakukan
konseli. Cara pandang dalam Konseling Realita, akar permasalahan konseli
bersumber pada perilakunya (doing), bukan pada perasaannya.
4.
Tahap keempat: Konseli Menilai Diri Sendiri atau Melakukan Evaluasi
Tahap ini konselor menanyakan kepada konseli
apakah pilihan perilakunya tidak untuk menilai benar atau salah perilaku
konseli, tetapi membimbing konseli untuk menilai perilakunya saat ini. Beri
kesempatan kepada konseli untuk mengevaluasi (Evaluating), apakah ia cukup
terbantu dengan pilihannya tersebut.
5.
Tahap kelima: Merencanakan Tindakan yang Bertanggung jawab
Tahap ketika konseli mulai menyadari bahwa
perilakunya tidak dapat meyelesaikan masalah, dan tidak cukup menolong keadaan
dirinya, dilanjutkan dengan membuat perencanaan (Planning) tindakan yang lebih
bertanggung jawab. Rencana yang disusun sifatnya spesifik dan konkret.
6.
Tahap keenam: Membuat komitmen
Tahap ini Konselor mendorong konseli untuk
merealisasikan rencana yang telah disusunnya bersama konselor sesuai dengan
jangka waktu yang ditetapkan.
7.
Tahap ketujuh: Tidak Menerima Permintaan Maaf atau Alasan Konseli
Konseli akan bertemu kembali dengan konselor
pada batas waktu yang telah disepakati bersama. Pada tahap ini konselor
menanyakan perkembangan perubahan perilaku konseli. Apabila konseli tidak atau
belum berhasil melakukan apa yang telah direncanaknnya, permintaan maaf konseli
atas kegagalannya tidak untuk dipenuhi konselor. Sebaliknya, konselor mengajak
konseli untuk melihat kembali rencana tersebut dan mengevaluasinya mengapa
konseli tidak berhasil. Konselor selanjutnya membantu konseli merencanakan
kembali hal-hal yang belum berhasil ia lakukan.
8.
Tahap kedelapan: Tindak lanjut
Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam
konseling. Konselor dan konseli mengevaluasi perkembangan yang dicapai, konseling
dapat berakhir atau dilanjutkan jika tujuan yang telah ditetapkan belum
tercapai.
A.
Kesimpulan
Konseling Realita Merupakan teknik konseling kelompok yang di
perkenalkan oleh William Glasser. Menurutnya, teori realita ini menekankan
bahwa semua prilaku muncul dalam diri seseorang dengan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
dirinya (Glasser, dalam Gladding, 1955). Konseling Realita memiliki tujuan untuk membantu individu mencapai
tujuan khususnya.
Tahap Konseling Kelompok Pelaksanaan bimbingan dan konseling kelompok tentunya memiliki berbagai tahapan yang sistematis. Yaitu terdiri dari Forming a group, Initial Stage, Transition Stage, Working Stage, Final Stage. Tahap Konseling Realita Proses konseling dalam pendekatan realitas berpedoman pada dua unsur utama, yaitu pencintaan kondisi lingkungan yang kondusif dan beberapa prosedur yang menjadi pedoman untuk mendorong terjadinya perubahan pada konseli.
Teknik Koseling Realita Prosedur-prosedurnya difokuskan pada kekuatan dan potensi klien yang berhubungan dengan tingkah lakunya sekarang dan usahanya untuk mencapai keberhasilan dalam hidup. Koseling Realita dalam Konseling Kelompok Tahapan kegiatan konseling kelompok realitas (Wubbolding, 2011) menggunakan akronim WDEP (Want, Doing, Evaluation dan Planning) untuk menggambarkan prosedur yang akan diterapkan dalam praktek konseling kelompok realita.
B.
Saran
Dalam
menggunakan tahap-tahap Konseling kelopok mengguakan teknik reaita sebagai
seorang konselor seharusnya megetahui dan memahami mengenai tahap-tahap
konseling dan mengetahui teknik realita. Karena dapat dipakai serta
mengonfrontasikan konseli dengan cara-cara yang bisa membantu konseli untuk
menghadapi kenyataan dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa
merugikan diri sendiri maupun orang lain agar mendapatka hasil yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Sugiarti Tri. 2014. Konseling Realita. (Online). (https://srisugiarti05.wordpress.com/2014/05/08/konseling-realita/amp/). Diakses tanggal 18 Maret.
Nuriah, Enung Sinta. 2017.KONSELING KELOPOK DENGAN PENDEKATAN REALITAS.
(Online). (http://eshintanuriah.blogspot.com/2017/09/konseling-kelompok-dengan-pendekatan.html?m=1). Diakses tanggal 12 Maret.
Komentar
Posting Komentar